Minggu, 03 Juni 2012

Makalah Ulumul Hadis


BAB I
PENDAHULUAN

            Sebagaimana kita yakini bersama bahwa Muhammad saw.adalah Rasul akhir zaman,telah dating sesuai janji Allah.Kebenarannya dapat dibuktikan dalam segala segi.Sejarah adalah bukti utama.Riwayat hidupnya,perkataannya dan amalannya dipelihara baik-baik bahkan sudah sampai 14 abad keterangannya dalam sejarah sangat terang-benderang dan lengkap,seolah-olah kita melihatnya dengan mata kepala kita sendiri.
            Apabila Qur’an sepenuhnya wahyu Allah Swt.maka Sunnah itu adalah dari nabi Muhammad Saw.Sunnah biasanya juga disebut Hadist.Menurut harfiah kata Sunnah  berarti adat istiadat,termasuk adat istiadat masyarakat Arab dalam Pra Islam baik tentang persoalan agama sosial maupun hukum.Sedangkan menurut istilah bahwa Sunnah itu adalah sesuatu yang merupakan perkataan-perkataan,perbuatan-perbuatan dan taqrir (penetapan) Rasulullah.
            Mayoritas kalangan ahli Hadist (jumhur) dalam pemakaian Sunnah adalah sama dengan Hadist.Mereka telah melakukan penelitiandan study yang teliti tentang Hadist,sehingga mereka membuat klasifikasi berdasar cara pemberitaannya.Ada yang kwalitasnya membuahkan keyakinan dan yang lainnya berkwalitas sangka-sangkaan saja.
            Dalam menjelaskan hubungan suatu Hadist,ulama Hadist memberikan nama “Mutawatir’ dan “Ahad”.Dengan demikian dalam garis bessarnya Hadist terbagi menjadi dua jenis,yaitu:
  1. Hadist Mutawatir
  2. Hadist Ahad [1]
Pembagian ini adalah meninjau cara datangnya Hadist itu dari Nabi Muhammad Saw. Maka suatu hadist Mutawatir,manakala orang yang meriwayatkannya mencapai suatu batas jumlah yang mana mereka itu mustahil sepakat untuk berdusta.Hal demikian itu mesti dapat dibuktikan dalam segala tingkatan,baik dalam permulaannya,pertengahannya,maupun akhirnya.
Hadist Mutawatir dapat dibagi menjadi tiga macam,yaitu:
  1. Hadist Mutawatir Lafzi
  2. Hadist Mutawatir Maknawi
  3. Hadist Mutawatir Amali
Hadist Ahad seperti telah diterangkan oleh sebagian ulama hadist,bahwa suatu hadist yang diriwayatkan oleh seorang saja atau oleh beberapa orang yang jumlahnya sedikit.dalam hubungannya dengan Rasulullah mengandung dugaan bahwa ia berasal dari Rasulullah Saw.
Berdasar cara datangnya dan cara pembuktiannya,maka Hadist Ahad dibagi menjadi tiga yaitu:
  1. Hadist Masyhur (Hadist Mustafid)
  2. Hadist Aziz
  3. Hadist Garib.[2]
Selanjutnya untuk pengertian dan contoh dari masing-masing Hadist akan dibahas didalam pembahasan berikut ini.


 BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hadist Mutawatir
Dari segi bahasa,mutawatir,berarti sesuatu yang dating secara beriringan tanpa diselangi antara satu sama lain.Sedangkan menurut istilah hadist mutawatir adalah hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta dari sejumlah rawi yang semisal mereka dan seterusnya sampai akhir sanad.dan sanadnya mereka adalah pancaindera.
Misalnya : Kata                             (sejumlah banyak rawi)
Artinya jumlah itu tidak dibatasi dengan bilangan melainkan dibatasi dengan jumlah yang secara raional tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta.demikian pula mustahil mereka berdusta atau lupa secara serentak
      Dengan demikian suatu hadist Mutawatir apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
1.      Hadist yang diriwayatkan itu mengenai sesuatu dari Nabi Muhammad Saw.yang dapat ditangkap oleh pancaindera.seperti itu sikap dan perbuatan beliau yang dapat dilihat atau sabdanya yang dapat didengar.Misalnya para sahabat mengatakan,”Kami lihat Rasulullah Saw.berbuat begini.”
2.      Perawinya mencapai jumlah yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdusta.Jumlah minimal ada yang menetapkan sepuluh orang rawi,dua puluh,empat puluh dan bahkan ada yang menetapkan minimal tujuh puluh orang rawi.
3.      Jumlah perawi pada setip tingkatan tak boleh kurang dari jumlah minimal,seperti yang diterangkan pada syarat kedua.
Bila suatu hadist telah memnuhi tiga syarat diatas,maka tergolong hadist mutawatir dan benar/pasti berasal dari Nabi Muhammad Saw.
Para rawi hadist mutawatir tidak harus memenuhi kriteria rawi hadist shahih dan hasan,yakni adil dan dabit,melainkan yang menjadi ukuran adalah segi kuantitas (jumlah rawi) yang secara rasional mustahil mereka bersepakat untuk berdusta.[3]
B.     Macam-macam hadist Mutawatir[4]
Hadist mutawatir dapat dibagi menjadi tiga macam,yaitu:
1.      Hadist Mutawatir Lafzi
Hadist Mutawatir Lafzi adalah hadist mutawatir dengan susunan redaksi yang persis sama,sehingga garis besar serta perincian makanaya tentu sama pula.
Contoh:




Artinya: “Rasulullah saw.bersabda,”siapa yang sengaja berdusta terhadapku maka hendaklah dia menduduki tempat duduknya dalam neraka.” (HR.Bukhari dan lainnya)

2.      Hadist Mutawatir Maknawi.
Hadist Mutawatir maknawi adalah hadist mutawatir dengan makna umum yang sama walaupun berbeda redaksinya dan berbeda perincian maknanya.
Contoh:



Artinya: “Rasulullah Saw.pada waktu berdo’a tidak mengangkat kedua tangannya begitu tinggi sehingga terlihat ketiaknya yang putih kecuali pada waktu berdo’a memohon hujan.” (HR.Bukhari dan Muslim).
3.      Hadist Mutawatir Amali
Hadist Mutawatir Amali adalah hadist mutawatir yang menyangkut perbuatan Rasulullah saw.yang disaksiukan dan ditiru tanpa perbedaan oleh orang banyak kemudian juga dicontoh dan deprbuat tanpa perbedaan oleh orang banyak pada generasi-generasi berikutnya.
Diantara contohnya adalah hadist-hadist yang berkenaan dengan pelaksanaan shalat-shalat fardhu,shalat jenazah,shalat Idh,dan kadar zakat harta.

C.     Hadist Ahad[5]
Hadist Ahad menurut bahasa berarti hadist satu-satu.Pengertiann hadist menurut bahasa terasa belum jelas.Menurut para ulama ahli hadist,batasan hadist Ahad adalah sebagai berikut:
“Hadist Ahad adalah hadist yang para rawinya tidak mencapai jumlah rawi hadist mutawatir,baik rawinya itu satu,dua,tiga,empat atau seterusnya,tetapi jumlahnya tidak memberi pengertian bahwa hadist dengan jumlah rawi tersebut masuk dalam kelompok hadist mutawatir.”
Dapat diartikan bahwa hadist Ahad adalah hadist yang tidak memenuhi syarat mutawatir.

D.    Macam-macam Hadist Ahad
Dilihat dari segi jumlah rawi,maka hadist Ahad terbagi dalam tiga bagian yaitu:
1.      Hadist Masyhur (Hadist Mustafid)
Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah populer.Mustafid juga berarti yang telah tersebar atau tersiar.
Jadi menurut istilah ilmu hadist,hadist masyhur dan hadist mustafid itu sma-sama berarti  hadist yang sudah tersebar atau tersiar.

Contoh:




Artinya:”Rasulullah Saw.bersabda,”seorang Muslim adalah kaum muslimin yang tidak terganggu oleh lidah dan tangannya.”
            (HR.Bukhari Muslim dan Tirmizi)
2.      Hadist Aziz
Hadist Aziz menurut bahasa berarti hadist yang mulia atau hadist yang jarang karena memang hadist Aziz jarang adanya.Sedangkan menurut istilah dapat diartikan bahwa hadist Aziz adalah hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi,kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi.
Contoh:



Artinya:”Rasulullah Saw.bersabda,”kita adalah orang-orang yang paling akhir didunia dan paling terdahulu dihari kiamat.” (HR.Hudzaifah dan Abu Hurairah)
3.      Hadist Garib.
      Hadist Garib menurut bahasa berarti hadist yang terpisah atau menyendiri dari yang lain.Sedangkan menurut istilah hadist Garib adalah hadist yang diriwayatkan oleh satu orang rawi,pada tingkatan maupun sanad.
      Contoh:



         Artinya:”dari Umar bin Khattab katanya aku mendengar Rasulullah Saw.bersabda,”sesungguhnya amal perbuatan itu hanya memperoleh apa yang diniatkannnya.” (HR.Bukhari,Muslim dan lain-lain)
Kendati hadist diatas diriwayatkan oleh banyak imam hadist termasuk Bukhari dan Muslim namun pada tingkatan pertama hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat nabi,yaitu Umar bin Khattab.[6]

BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Menurut cara datangnya dari Nabi Muhammad Saw.hadist digolongkan menjadi dua macam yaitu Hadist Mutawatir dan Hadist Ahad.
2.      Hadist Mutawatir dibagi menjadi tiga yaitu Hadist Mutawatir Lafzi,Hadist Mutawatir Maknawi dan hadist mutawatir Amali.
3.      Sedangkan hadist Ahad juga digolongkan menjadi tiga macam yaitu Hadist Masyhur,Hadist Aziz dan hadist Garib.
4.      Dari segi jumlah rawi,hadist mutawatir diriwayatkan oleh para rawi yang jumlahnya sangat banyak pada setiap tingkatan menurut adat kebiasaan sehingga mustahil mereka berdusta sedangkan hadist Ahad diriwayatkan oleh para rawi dalam jumlah yang menurut adat kebiasaan masih memungkinkan mereka sepakat untuk berdusta.
5.      Dari segi pengetahuan yang dihasilkan,hadist mutawatir menghasilkan ilmu Qat’i (pasti) bahwa hadist itu sungguh-sungguh dari rasulullah sehingga dapat dipastikan kebenarannya sedangkan hadist Ahad menghasilkan ilmu Zanni (bersifat dugaan) bahwa hadist itu berasal dari Rasulullah saw.sehingga kebenarannya masih berupa dugaan pula.
6.      Dari segi kedudukan ,hadist Mutawatir sebagai sumber ajaran agama Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada hadist Ahad.
Sedangkan kedudukan hadist Ahad sebagai sumber ajaran Islam berada dibawah kedudukan Hadist Mutawatir.
7.      Dari segi kebenaran matan ,dapat ditegaskan bahwa keterangan matan hadist mutawatir mustahil bertentangan dengan keterangan ayat dalam Al-Qur’an,sedangkan keterangan matan hadist Ahad mungkin saja(tidak mustahil) bertentangan dengan keterangan ayat Al-Qur’an.Bila dijumpai hadist-hadist dalam kelompok hadist Ahad yang keterangan matan hadistnya bertentangan dengan keterangan ayat Al-Qur’an,maka hadist-hadist tersebut tidak berasal dari Rasulullah.
Mustahil Rasulullah mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan ajaran yang terkandung dalam Al-qur’an.



[1] Nasrudin,Dienul Islam hal.101-102
[2] Drs.H.M.Ahmad,Drs.M.Mudzakir ulumul Hadist Pen.Pustaka Setia Hal.89-97
[3] Drs.H.M.Ahmad,Drs.M.Mudzakir ulumul Hadist Pen.Pustaka Setia Hal 87-88
[4] Drs.H.M.Ahmad,Drs.M.Mudzakir ulumul Hadist Pen.Pustaka Setia Hal 89-91
[5] Drs.H.M.Ahmad,Drs.M.Mudzakir ulumul Hadist Pen.Pustaka Setia Hal 92
[6] Drs.H.M.Ahmad,Drs.M.Mudzakir ulumul Hadist Pen.Pustaka Setia Hal 92-97

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar